Google+ Followers

WELCOME

Selamat membaca, lampirkan LINK jika ingin merepost tulisan saya. Terima kasih, semoga bermanfaat.

Jumat, 30 September 2011

SENI TRADISIONAL + SENI MODERN = SENI KONTEMPORER


D
i era globalisasi ini, orang - orang biasanya lebih tertarik kepada hal yang modern ataupun yang berbau IPTEK, meskipun begitu ternyata seni tetap berkembang. Sekarang ini seni tidak lagi sebuah hal yang hanya bisa dinikmati semata, selain itu seni pun bisa kita ambil manfaatnya sebagai alat bantu sehari - hari. Misalnya saja seni bangunan yang kita manfaatkan untuk membangun sebuah rumah yang indah untuk bisa dinikmati keindahannya secara visual dan di ambil manfaatnya sebagai tempat untuk berlindung dan menjalani kehidupan sehari-hari.
http://1.bp.blogspot.com/-C25VGsXX5_M/
Td8ejsxJbJI/AAAAAAAAAH4/I84v
ZCXUJp4/s1600/wayang-kulit.jpg


Didalam perjalanan seni, seni berawal dari zaman prasejarah sampai saat ini. Perkembangan ini menjadikan seni terkelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu jenis seni primitif, seni klasik, seni tradisional, seni modern, dan seni kontemporer.

Dulu unsur kesenian itu diambil dari kehidupan dan kebudayaan suatu kelompok masyarakat yang biasa kita sebut seni tradisional. Karena diambil dari kehidupan dan kebudayaan suatu kelompok masyarakat, menjadikan suatu perbedaan dan menjadi salah satu ciri suatu daerah. Namun, kini seni tradisional kian menghilang dikarenakan modernisasi, industrialisasi ataupun pengaruh luar. Hal tersebut dianggap sebagai fenomena bagi kalangan tertentu.
Dan kini seni tidak terbatas pada kebudayaan suatu adat atau daerah, namun tetap berdasarkan sebuah filosofi dan aliran-aliran seni rupa dan ini dinamakan sebagai seni modern.


Selain itu ada juga seni kontemporer, yaitu seni pada zaman sekarang yang lebih terpengaruh kepada dampak modernisasi yang bebas dan bersifat kekinian. Seni kontemporer memiliki masa popularitas tertentu sehingga seni ini dapat dikatakan bersifat temporer. temporer itu artinya sesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang sama atau saat ini. Seni ini dapat dinikmati pada masa populernya dan apabila sudah lewat maka masyarakat tidak lagi menyukainya.
http://bahtiarhs.net/wp-content/uploads/
2009/02/picasso_three_musicians.jpg


Menurut Gendon Humardani yang dikutip oleh Rustopo (1990 : 22 - 26) membatasi kontemporer sebagai suatu sikap berkesenian yang sejalan dengan konsep seni modern yang berorientasi pada masalah-masalah kehidupan masa kini. Sikap kontemporer yaitu terus menerus mengembangkan kreativitas, mewujudkan yang baru dan yang segar, mengakomodasi masalah kehidupan masa kini. Dan menurut Edi Sedyawati (1992: 122), istilah kontemporer sebenarnya luas.

Seni kontemporer lebih banyak diminati oleh kalangan para seniman dibandingkan dengan seni tradisional dan seni modern, ini dikarenakan

sifatnya yang lebih bebas, tidak terikat, dan merupakan pencampuran dari beberapa cabang seni. Misalnya saja seni rupa, Seni rupa sebenarnya seni yang luas, karena seni rupa itu bisa di wujudkan menjadi beberapa garis, bidang, volume, tekstur, dan bentuk. Bentuknya itu sendiri bisa dibentuk menjadi bentuk gambar, lukis, patung, grafis, kriya, kerajinan tangan dan multimedia. Menurut artikel yang saya baca, kini seni rupa tidak lagi memiliki batasan yang jelas antara seni lukis, seni patung dan seni arsitektur , juga bentuk yang dihasilkan biasanya unik dan obyek atau coraknya bebas, dan terkadang terkesan aneh, karena sudah terpengaruh seni kontemporer. Ini mengakibatkan ketidakjelasan sebuah hasil karya.

Di era kontemporer ini, selain bentuk seni rupa pada saat ini sudah tidak lagi seperti dulu, kini seni rupa lebih memanfaatkan teknologi yang ada, misalnya saja pada pembuatan bentuk sebuah gambar. Dulu seni gambar biasa di buat dengan tangan, kini seni gambar bisa kita buat juga dengan program yang ada pada komputer yang biasa disebut dengan Klip Art. Selain itu kita bisa membuat suatu gambar ataupun mengubahnya dan memamerkannya di internet, hal ini biasanya kita sebut dengan Net Art.


Di Indonesia sendiri perkembangan seni kontemporer berawal sekitar awal 70-an, ketika Gregorius Sidharta menggunakan istilah kontemporer untuk menamai pameran seni patung pada waktu itu. Bentuk seni kontemporer seperti patung dari es, lukisan pada tubuh manusia (body painting), seni instalasi, grafity, dan sebagainya. Selain seni rupa, seni kontemporer pun mempengaruhi bidang seni lainnya salah satunya seni tari.
Seni kontemporer di mata masyarakat pun penuh dengan pro-kontra. masyarakat berpendapat mengenai seni kontemporer, menurut orang yang setuju dengan seni kontemporer berpendapat bahwa seni kontemporer itu adalah sebuah seni yang indah. Sedangkan orang yang tidak setuju dengan seni kontemporer beranggapan bahwa bentuk seni ini tidak beretika dan terlalu bebas, juga tidak mementingkan aturan zaman dulu yang membatasi antara cabang seni satu dengan yang lainnya. Salah satunya menurut Benodhi salah satu penulis blog mengatakan, bahwa kita memang perlu bicara seni, termasuk seni fiksi. Sayang tidak sedikit orang yang menyuguhkan fiksi, tetapi bukan seni fiksi. Tidak sedikit, penulis, yang untuk menutupi kelemahan (karyanya) lalu melakukan berbagai upaya yang tidak relevan. Misalnya, dengan menyuguhkan hal-hal yang berbau pornografis. Ada juga yang menjadikan bumbu politik, atau peristiwa politik, sebagai warna tulisannya.
http://designyoutrust.com/
2008/08/30/emo-for-obama/

http://www.moolf.com/images/stories/
Interesting/Body-painting-gallery/
Body-painting4.jpg

















Daftar Pustaka












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar